TEMPO Interaktif, Bandung – Tiga pekerja tewas saat mengerjakan proyek pemasangan pipa beton air limbah Perusahaan Daerah Air Minum Kota Bandung di area persimpangan Jalan Pasirluyu dan Jalan Soekarno-Hatta Kota Bandung, Ahad (24/10) dini hari.
Ketiganya, Darhendi, 42 tahun, Parman, 42 tahun, dan Warsim, 52 tahun, terjebak dalam gorong-gorong berdiameter 1,1 meter dan terendam air bah dari manhole atau lubang saluran lama yang dindingnya jebol sekitar 8 meter di bawah Jalan Soekarno-Hatta.
Juru bicara Kepolisian Resor Kota Besar Bandung Komisaris Endang Sri Wahyu Utami membenarkan adanya peristiwa tersebut. Pekerja proyek yang terjebak air bah dalam gorong-gorong bakal saluran air kotor tersebut, kata dia, sebetulnya ada lima orang.
“Tapi yang dua orang berhasil selamat, sedangkan yang tiga orang itu meninggal,” katanya saat dihubungi Ahad (24/10). Kedua korban yang selamat adalah Rusyani, 42 tahun, dan Rudin, juga 42 tahun.
Endang menambahkan, polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Sejumlah saksi pekerja dan otoritas proyek sudah dimintai keterangan. Lokasi kejadian di lubang saluran tempat masuk pekerja proyek pemasangan pipa beton bawah tanah di tepi Sungai Cikapundung di persimpangan Jalan Pasirluyu dan Jalan Soekarno-Hatta, juga sudah dipasangi garis polisi.
“Penyelidikan untuk memastikan apakah kejadian itu memang murni kecelakaan atau ada unsur kelalaian atau kesengajaan,” kata dia.
Saksi korban Rusyani mengatakan pengerjaan proyek di lubang saluran Pasirluyu dilakukan 11 pekerja asal Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaen Brebes, Jawa Tengah. Secara bergantian selama 24 jam, mereka ditugasi memasang pipa beton bakal saluran air limbah hingga menyambung dengan pipa serupa yang sudah dipasang lebih dahulu. Pipa lama itu berujung di bekas lubang saluran lama di bawah Jalan Soekarno Hatta yang berjarak sekitar 87 meter di timur lubang saluran Pasirluyu.
Sabtu malam dan Ahad dini hari tadi adalah giliran tugas Rusyani, Darhendi, Parman, Warsim, Rudin, dan Yanto. “Setelah sempat mengaso, sekitar jam 01.00 dini hari tadi, kami berlima turun ke lubang dan masuk gorong-gorong. Sedangkan Yanto menunggu di luar manhole,” ujar Rusyani di Instalasi Jenazah Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.
Rusyani menjelaskan, Darhendi yang pertama turun dan masuk ke dalam gorong-gorong berdiameter 1,1 meter sambil menenteng cangkul. Lalu kemudian dirinya, Parman, Warsim, dan Rudin.
“Di dalam pipa (gorong-gorong), kami berjalan jongkok 80 meter lebih. Kami akan membersihkan dan mengangkut koral bekas urukan di dekat dinding manhole lama sebelum pipa yang kami pasang dihubungkan,” kata Rusyani.
Pembersihan dilakukan dengan menggunakan cangkul oleh Darhendi. Sedangkan keempat rekan di belakangnya bertugas mengangkut bebatuan itu keluar secara estafet. “Setelah sekitar setengah jam kami bekerja, tiba-tiba dinding kayu manhole lama jebol, tak kuat menampung air hujan yang memenuhinya,” ujar Rusyani.
Selanjutnya, arus deras mirip air bah pun merendam dan mendorong kelima pekerja. “Seluruh pipa langsung dipenuhi air,” kata Rusyani.
Sekuat tenaga, kata Rusyani, para pekerja menahan nafas lalu berbalik dan berusaha bergerak secepatnya bersama air menuju manhole Pasirluyu. "Gerak cepat saya tak sia-sia. Dalam hitungan menit berhasil mencapai manhole Pasirluyu dan menghirup udara lagi," katanya. “Rasanya saya sempat menginjak tubuh teman saya tapi nggak tubuh siapa.”
Ia tak sendirian. Rudin yang masuk gorong-gorong paling akhir dan paling dekat ke lubang saluran Pasirluyu juga selamat. “Pas air datang saya langsung menutup mulut dan hidung dan menengadahkan kepala. Lalu buru-buru jalan keluar bersama air. Alhamdulillah saya selamat,” aku Rudin.
Setibanya di lubang saluran Pasirluyu, Rudin pun langsung meminta bantuan Yanto dan kolega lainnya untuk mematikan listrik dan membantu empat kawan yang masih terjebak di gorong-gorong. “Untung listrik langsung ada yang mematikan. Kalau tidak, mungkin saya juga akhirnya tak selamat karena bisa tersetrum kalau air dari bawah menjangkau sambungan listrik di manhole (Pasirluyu),” kata dia.
Tapi malang, tiga pekerja lain tak seberuntung Rudin dan Rusyani. Darhendi, Parman, dan Warsim diduga kehabisan nafas hingga tewas di gorong-gorong. Jasad ketiga korban tewas berhasil dievakuasi sekitar pukul 03.00 dini hari. Lalu setelah sempat dipulasara di instalasi jenazah RS Hasan Sadikin, jasad ketiganya langsung dibawa pulang ke keluarga mereka di Cikakak, Brebes.
Kepala Desa Cikakak, Dria Wahana, mengatakan, seluruh biaya pemulasaraan dan transportasi untuk ketiga korban tewas ditanggung perusahaan yang mempekerjakan mereka, PT Seruni Mas.
“Kami tak keluar sepeserpun untuk biaya-biaya itu. Hanya soal santunan untuk para ahli waris ketiga korban masih dalam proses pembicaraan,” kata Dria yang datang menjemput warganya itu ke RS Hasan Sadikin, Ahad siang.
Erick P Hardi
• Share
• Send
• Print
•
Topik :
• kecelakaan kerja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar